Connect with us

Ebiet G. Ade

Haruskah Aku Menyerah – Ebiet G. Ade

Haruskah aku menyerah melawan kebisingan?
Suara hatiku, jeritan jiwaku
menggumpal dalam tanda tanya

Haruskah aku mencari suara-suara burung
di tengah lautan, di atas matahari?
Untuk kugubah jadi nyanyian ho

Semua bukit telah aku coba daki,
semua laut kuseberangi
Agar semakin besar rasa keyakinanku
bahwa masih ada nafas di dalam jantungku
untuk kulanjutkan keheningan
du du du du du du du du
du du du du du du du
du du du du du du du du
du du du du du du du

Haruskah aku mencari suara-suara burung
di tengah lautan, di atas matahari
Untuk kugubah jadi nyanyian ho

Bahwa masih ada nafas di dalam jantungku
untuk kulanjutkan keheningan
du du du du du du du du
du du du du du du du
du du du du du du du du
du du du du du du du

hu hu hu hu hu
hu hu hu hu hu

READ  Perjalanan - Ebiet G. Ade
Continue Reading

Ebiet G. Ade

Seraut Wajah – Ebiet G. Ade

Lirik lagu: Seraut Wajah

Wajah yang selalu dilumuri senyum
legam tersengat terik matahari
Keperkasaannya tak memudar
terbaca dari garis-garis di dagu
Waktu telah menggilas semuanya
Ia tinggal punya jiwa
Pengorbanan yang tak sia-sia
untuk negeri yang dicintai, dikasihi
Tangan dan kaki rela kau serahkan
Darah, keringat rela kau cucurkan
Bukan hanya untuk ukir namamu
Ikhlas demi langit bumi
bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah
Wajah yang tak pernah mengeluh
Tegar dalam sikap sempurna,
pantang menyerah
Tangan dan kaki rela kau serahkan
Darah, keringat rela kau cucurkan
Bukan hanya untuk ukir namamu
Ikhlas demi langit bumi
bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah
Merah merdeka, putih merdeka, warna merdeka

READ  Tentang Seorang Sahabat - Ebiet G. Ade
Continue Reading

Ebiet G. Ade

Sepucuk Surat Cinta – Ebiet G. Ade

Coba kau tinggalkan aku sendiri
untuk belajar menahan kerinduan
dan untuk menimbang sampai seberapa
kadar cinta kasihku kepadamu
sampai seberapa kesetiaanku padamu

Coba kau biarkan aku berfikir
apa yang mesti kukatakan padamu
Setiap orang selalu saja bicara
tentang masa depan dan masa silam
Aku akan jujur saja kukatakan, “aku cinta padamu”

Kulihat kaki-kaki burung berdansa
Kudengar putik-putik kembang berdendang
Itukah pertanda aku jatuh cinta?
Itukah pertanda hatiku kembali tergugah

Coba kau renungkan sekali lagi
di sisi manakah ‘ku harus berdiri
sebab ini semua tergantung padamu
sedang di sini telah kubuka tanganku
Sekarang tinggal bagaimanakah kau bersikap padaku

Kekerasanmu mulai aku sukai
Sikap-sikapmu pun telah kumengerti
Pandangan hidupmu aku pun setuju
walau kita ada di jalan berbeda
tetapi jelas bahwa tujuan kita sama, padaNya

Benarkah di satu sudutmu, Jakarta
cintaku mulai tumbuh subur
Atau semua ini hanyalah sejenak
seperti yang selalu aku dapati
seperti yang selalu aku temui berakhir

READ  Biarlah Aku Diam - Ebiet G. Ade
Continue Reading

Ebiet G. Ade

Dongeng Dari Negeri Antah Berantah – Ebiet G. Ade

Hormatilah jabatanku, putra tunggal kepala kampung
Punya hak untuk tolak pinggang memerintah hm… hu…
Kupelihara kesombongan, sorot mata segalak mungkin
untuk menjaga martabat dan wibawa

Hari ini aku dipanggil menghadap ayah terhormat
Melaporkah tugasku mengelola dagang model putra bangsawan
Cara yang aku terapkan gampang, tak perlu berfikir
yang penting bisa memanfaatkan kesempatan, jabatan ayahku
semua berjalan lancar
hm… ho.. ho..

Betapa aku tersinggung dengan seorang patriot
Berani ia mengecam tingkahku hm… ho…
Untung saja lima pengawalku segera melingkus tulang belulang
Caci maki aku semburkan di kupingnya:

“Kuingatkan sekali lagi, aku putra kepala kampung
Jangan coba melawan kalau tak ingin susah, sebaiknyalah kau diam
Aku jalankan perintah ayahanda yang agung
menindas nyali rakyatku agar tak banyak tingkah, agar semua bisu
menurut selalu patuh.”
hm hm hm

Inilah cerita keji dari negeri antah berantah
Sepantasnyalah jadi timbangan bagi kita hm… hu..
Meskipun hanya dongengan tapi cukup meremas jantung
Semoga saja takkan terjadi di negri ini.
ho ho hm hm hu…… hm hm hm ho ho ho ho ho ho ho

READ  Potret Hitam Putih - Ebiet G. Ade
Continue Reading