Connect with us

Ebiet G. Ade

Lolong – Ebiet G. Ade

Jembatan batu di sebelahku diam
Pancuran bambu kecil memercikkan air
Menghempas di atas batu hitam
Merintih menikam sepi pagi

Pucuk-pucuk cemara bergoyang-goyang
Diterpa angin dingin bukit ini
Seperti mengisyaratkan doa
Rahasia alam diam di sekitarnya

Di sini pun aku mencari Engkau
Setiap kali ku panggili namaMu
Namun selalu saja hanya gema suaraku
yang terdengar rindu

Gadis manis duduk di sebelahku
Menyematkan kembang di saku bajuku
Dan bercerita tentang sepasang burung
Yang bercumbu di atas dahan

Tetapi sepi tetap bergayut di dada
Selalu kuteriakkan kata “Di mana?”
Tetapi rindu tetap bergayut di dada
Selalu kuteriakkan kata “Di mana?”

Ketika pulang aku turun ke kali
Dan berkaca di atas air
Kulihat wajahku letih dan tua
Tapi aku berusaha tertawa
Anggap hidup hanya sandiwara
yang kan berakhir segera

READ  Nyanyian Siang Dan Malam - Ebiet G. Ade
Continue Reading

Ebiet G. Ade

Sepucuk Surat Cinta – Ebiet G. Ade

Coba kau tinggalkan aku sendiri
untuk belajar menahan kerinduan
dan untuk menimbang sampai seberapa
kadar cinta kasihku kepadamu
sampai seberapa kesetiaanku padamu

Coba kau biarkan aku berfikir
apa yang mesti kukatakan padamu
Setiap orang selalu saja bicara
tentang masa depan dan masa silam
Aku akan jujur saja kukatakan, “aku cinta padamu”

Kulihat kaki-kaki burung berdansa
Kudengar putik-putik kembang berdendang
Itukah pertanda aku jatuh cinta?
Itukah pertanda hatiku kembali tergugah

Coba kau renungkan sekali lagi
di sisi manakah ‘ku harus berdiri
sebab ini semua tergantung padamu
sedang di sini telah kubuka tanganku
Sekarang tinggal bagaimanakah kau bersikap padaku

Kekerasanmu mulai aku sukai
Sikap-sikapmu pun telah kumengerti
Pandangan hidupmu aku pun setuju
walau kita ada di jalan berbeda
tetapi jelas bahwa tujuan kita sama, padaNya

Benarkah di satu sudutmu, Jakarta
cintaku mulai tumbuh subur
Atau semua ini hanyalah sejenak
seperti yang selalu aku dapati
seperti yang selalu aku temui berakhir

READ  Opera Tukang Becak - Ebiet G. Ade
Continue Reading

Ebiet G. Ade

Dongeng Dari Negeri Antah Berantah – Ebiet G. Ade

Hormatilah jabatanku, putra tunggal kepala kampung
Punya hak untuk tolak pinggang memerintah hm… hu…
Kupelihara kesombongan, sorot mata segalak mungkin
untuk menjaga martabat dan wibawa

Hari ini aku dipanggil menghadap ayah terhormat
Melaporkah tugasku mengelola dagang model putra bangsawan
Cara yang aku terapkan gampang, tak perlu berfikir
yang penting bisa memanfaatkan kesempatan, jabatan ayahku
semua berjalan lancar
hm… ho.. ho..

Betapa aku tersinggung dengan seorang patriot
Berani ia mengecam tingkahku hm… ho…
Untung saja lima pengawalku segera melingkus tulang belulang
Caci maki aku semburkan di kupingnya:

“Kuingatkan sekali lagi, aku putra kepala kampung
Jangan coba melawan kalau tak ingin susah, sebaiknyalah kau diam
Aku jalankan perintah ayahanda yang agung
menindas nyali rakyatku agar tak banyak tingkah, agar semua bisu
menurut selalu patuh.”
hm hm hm

Inilah cerita keji dari negeri antah berantah
Sepantasnyalah jadi timbangan bagi kita hm… hu..
Meskipun hanya dongengan tapi cukup meremas jantung
Semoga saja takkan terjadi di negri ini.
ho ho hm hm hu…… hm hm hm ho ho ho ho ho ho ho

READ  Nyanyian Pendek Buat Anak Manis Berambut Panjang - Ebiet G. Ade
Continue Reading

Ebiet G. Ade

Senandung Pucuk Pucuk Pinus – Ebiet G. Ade

Lirik lagu: Senandung Pucuk Pucuk Pinus

Bila kita tak segan mendaki
lebih jauh lagi
Kita akan segera rasakan
betapa bersahabatnya alam
Setiap sudut seperti menyapa
Bahkan teramat akrab
Seperti kita turut membangun
Seperti kita yang merencanakan
Pucuk-pucuk pinus seperti berebut
Bergesek berdesak, berjalin tangan
Ranting kering luruh adalah nyanyian
Selaksa puisi bergayut di dahan
leburlah di sini
Kini tinggal menunggu
datang hembusan angin, ho
Sempurnalah segalanya
Bila kita tak segan menyatu
lebih erat lagi
Kita akan segera percaya
Betapa bersahajanya alam
Lumpur kering adalah pedoman
untuk temukan jalan
Dan butir embun adalah lentera
dalam segenap kegelapan
Pucuk-pucuk pinus seperti berebut
Bergesek berdesak, berjalin tangan
Ranting kering luruh adalah nyanyian
Selaksa puisi bergayut di dahan
leburlah di sini
Kini tinggal menunggu
datang hembusan angin, ho
Sempurnalah segalanya
Pucuk-pucuk pinus seperti berebut
Bergesek berdesak, berjalin tangan
Ranting kering luruh adalah nyanyian
Selaksa puisi bergayut di dahan
leburlah di sini
Kini tinggal menunggu
datang hembusan angin, ho
Sempurnalah segalanya

READ  Episode Cinta Yang Hilang - Ebiet G. Ade
Continue Reading